"Bu, kulo wangsul nggih?" kataku diujung telefon
"mboten ngantos fi, wonten griya saweg Udan Syarat Tahun" Ibu ku menjawab penuh penjelasan
"oh kados niku nggih bu" aku sedikit kecewa.
Percakapan via telefonku beberapa jam yang lalu.
Namanya Hujan Syarat Tahun. Kucuran air langit yang sangat deras dipadu dengan petir dan guntur yang menggelegar membuat hati siapapun tak nyaman. Mengingat bulan ini adalah Juni, yang menurut periode musim adalah musim kemarau. Tapi mengapa justru hujan ?
Perubahan iklim atau siklus iklim di bumi kian mobrak mabrik. Berdasarkan perhitungan geografi bulan April-Maret adalah bulan kemarau. Teorinya pada bulan tersebut matahari seolah berada dibelahan bumi utara. Benua Asia lebih banyak menerima sinar matahari, sehingga bertekanan minimum. Angin bertiup dari tempat bertekanan maksimum (Australia) ke tempat bertekanan minimum (Asia). Pada saat itu Indonesia mengalami musim kemarau. Tapi hasil riset puluhan tahun itu kini sulit diaplikasikan dalam dunia nyata. Musim berganti seolah tak kenal perhitungan.
Kembali lagi ke cerita awal, hujan yang sebenarnya dimaksud adalah hujan ditengah musim kemarau. Saat cuaca sedang panas panasnya tiba tiba hujan mendera sekuat kuatnya, seperti yang terjadi pada Kamis, 7 Juni, 2012 sekitar pukul 15.30 WIB. Hujan syarat tahun bertamu di tempat kelahiran saya, Gunung Wuled. Saya yang berada jauh dari orang tua sempat merasa khawatir, tapi sedikit lega saat Ibu saya mengatakan semuanya baik baik saja.
*dokumentasi akan saya posting secepatnya.
Asal mula Hujan Syarat Tahun
Ditengah kehidupan masyarakat jawa banyak berkembang ilmu kejawen yang sering disebut gugon tuhon. salah satunya yang menjadi ciri khas daerah saya dan kebetulan berhubungan erat dengan hujan syarat tahun.Jika ada wayang yang secara langsung atau tidak langsung mampir maka akan mengundang longsor dan hujan besar yang se tipe dengan hujan syarat tahun. Hal itu TERBUKTI NYATA.
Arti "Hujan Syarat Tahun" dalam Imajiku
Hujan yang menjadi Syarat atau pertanda agar masyarakat menjaga tradisi leluhurnya. Sebagai pengingat atau pepeling dari Yang Maha Kuasa.
#sumber cerita dari mana mana, ^^
tapi 99% akurat kok :p
Thursday, June 7, 2012
Saturday, June 2, 2012
Jalan Terbaik Menuju Kematian
(Berubahlah menjadi laba-laba punggung
duri)
Kaki kaki kecilku berjalan menelusuri
jaring laba laba milik saudara sekelas dalam Arachnida namanya Araneus diadematus berasal dari subordo
yang sama denganku Araneomorphae. Karena hubungan kekrabatan yang dekat aku
tinggal bersamanya dalam satu rumah jaring. Ara adalah laba laba penenun, ia
senang sekali memperluas sarangnya. Tidak semua laba-laba membuat jaring untuk menangkap mangsa, akan tetapi
semuanya mampu menghasilkan benang sutera berupa helaian serat protein yang
tipis namun kuat dari kelenjar yang
terletak di bagian belakang tubuhnya biasa disebut spinneret.
Termasuk aku, namaku Gasteracantha. Aku
biasa dipanggil Gasta. Sebagai seekor Laba-laba punggung duri aku sangat bangga
dengan punggung bercorakku. Aku juga memiliki duri yang paling tidak berjumlah
delapan duri, dua di antaranya yang terletak di punggung samping kiri dan kanan
punggungnya berukuran lebih besar. Warna duri-durinya merah kecoklatan.
Sedangkan punggungnya sendiri kuning muda dengan garis-garis penyeling berwarna
kehitaman. Dengan motif itu aku sangat percaya diri jika kerajaan Animalia
mengadakan kontes kecantikan corak, meskipun aku seorang jantan. Dengan
dominasi dengan warna dasar kehitaman ditambah dengan bintik-bintik putih yang
melingkar, termasuk kaki-kaki.
Membuat laba laba betina seperti
Tera, dia laba laba punggung duri juga. Tera pasti tertarik padaku. Aku dan
Tera bukan laba laba pribumi. Ayahku keturunan California dan ibuku keturunan
Florida. Sedangkan Tera, orang tuanya berasal dari belahan bumi lainnya,
Australia. Nenek moyang kami berasal dari negara beriklim subtropis seperti di
bagian selatan Amerika Serikat dari California ke Florida, serta di Amerika
Tengah, Jamaika, Kuba, Republik Dominika, Amerika Selatan dan pulau-pulau
tertentu di Bahama. Ini juga telah terlihat di Kepulauan Whitsunday, Australia
dan Palawan, Filipina. Tapi kini keturunannya sudah tersebar di berbagai
belahan dunia, termasuk Indonesia. Kami sudah bisa beradaptasi dengan berbagai
musim di dunia.
Saat itu aku mengejar serangga kecil yang terperangkap
dalam jaring laba labaku. Karena tubuhku yang kecil aku tak terlalu kuat untuk
segera berlari menangkapnya. Ia sudah lari terlebih dahulu. Karena tubuhku yang
sudah sangat lapar aku terus mengejarnya. Dengan sisa sisa tenagaku aku
memanjat ranting melewati daun daunan. Dan ups.... targetku sudah masuk ke
jaring lagi... arghh.. aku sangat kecewa. Keronconganku berbuah percuma. Wahh..
tapi ternyata ada permata didepan sana. Sumpah, coraknya sangat indah.. aku
bisa merasakannya.
Dengan penglihatan yang tidak begitu baik, tidak
dapat membedakan warna, atau hanya sensitif pada gelap dan terang. Untuk
menandai kehadiran rangsangan aku mengandalkan getaran, baik pada jaring-jaring
suteranya maupun pada tanah, air, atau tempat yang dihinggapinya. Aku tertarik
padanya, semua rasa laparku hilang seketika. Berganti dengan cinta.
Pada saat yang tak ditentukan aku
dan Tera menjadi sepasang Jantan dan Betina. Aku sangat menyanginya. Kita
banyak menghabiskan waktu bersama. Aku kini sudah mempunyai jaring sendiri
tempat hidupku bersama Tera. Saat yang aku takutkan tiba, mimpi buruk itu akan
segera tercipta. Spesies laba-laba tidak bisa berumur lama. Bahkan, jangka
hidupnya hanya berlangsung sampai reproduksi, yang biasanya terjadi musim semi
mengikuti musim dingin saat mereka menetas. Disebutkan betina akan mati setelah
memproduksi massa telur, dan pejantan enam hari setelah siklus lengkap induksi
sperma betina.
Saat ini adalah musim kawin tak
terkecuali aku dan Tera. Dia sedang mengandung anakku. Beberapa saat kemudian
telur itu keluar dari bagian belakang tubuhnya. Kulitnya berubah pucat. Lalu
dia menatapku terakhir kali. Dan saat ini kutahu nyawanya tak ada lagi. Aku
sedih melepas kepergiannya. Harapanku satu satunya adalah laba laba kecil ini.
Aku akan bertahan hidup setidaknya hanya sampai enam hari kedepan. Aku akan
melatihnya menjadi mandiri melakukan segalanya sendiri.. sampai suatu saat aku
akan terbang menuju keabadian dan bahagia bersama Tera, 6 hari lagi aku akan
mati.
##################################################################
Saturday, May 12, 2012
Membekas Sejarah
Matahari di atas
kotaku sedang terik teriknya saat itu. Aku masih duduk di depan History1. Mata
masih sibuk membolak balik modul orange saat sekelompok gadis kelasku beranjak
masuk kedalam ruangan pengap itu. Bu Wulan yang baik itu sudah berjalan menuju
kelas. Membimbing siswa yang saat itu belum lulus ujiannya atau istilah
gampangnya remidi. Aku memutuskan untuk masuk dan mengambil posisi paling
belakang. Bukan bermaksud negative seperti yang dipikirkan kalian, aku hanya
mengikuti kata hati, bukan bermaksud apa apa.
Kutatap wajah wajah yang seolah tanpa dosa
disekitarku. “Penuh ya sama anak kelas kita.. Fiuh ngga ada hiburan nih”
ceritaku pada teman disebelahku. Mataku tertuju pada seorang gadis yang baru
pernah kulihat. Pandangannya menuju ke setiap sudut ruangan. Dia Nampak sedikit
kecewa saat tau, tak satupun teman sekelasnya yang ada disitu. Dia memilih
bangku paling belakang juga, satu bangku dari tempatku dudukku.
“Ini yang mengulang sama yang susulan
dipisah ya, yang susulan mana saja?” Ibu Wulan membuka cerita. Aku yang merasa,
refleks mengangkat tanganku, begitu pula dengan satu teman sekelas dan gadis di
bangku paling belakang itu. Tak ada yang istimewa, pikirku sederhana.
Soal mulai dibagikan, dan aku mulai
kesulitan mengisi kotak kotak TTS.nya. dia tepat didepanku duduk, bukan lagi
dibelakang sebangku dengan seorang teman sekelasku. “hey.. nomer 9 apa sih??
Aku lupa nih” tanyaku pada teman sekelasku sambil menggaruk garuk kepala. “ntar
dulu lah aku lagi ngerjain” pertanyaanku yang setengah berbisik dijawab dengan
suara yang lumayan keras. Gadis didepanku itu menoleh, kemudian tersenyum
padaku. Awalnya aku ragu, aku merasa tak mengenalnya. “nomer berapa” gadis itu
membuka pembicaraan. Aku semakin
bingung. Kenapa dia cepat sekali membaur? Padahal sekali lagi aku merasa tak
mengenalnya.
“nomer 9 sama 5” jawabku datar menerobos
matanya. Ia kemudian memberikan jawaban sesuai yang kuinginkan. Aku tersenyum
puas melihat hasil kerjaku yang penuh. Siang itupun berlalu, sekali lagi tanpa
membekas apa apa…
………………………………………….
Aku mulai bosan dengan rutinitasku sebagai
pemula di SMA. Mulai menginginkan kembali sesuatu yang dulu pernah aku rasakan,
dan aku ingin kali ini rasa itu lebih kuat. Ya.. aku menginginkan rasa yang
sama tapi orang berbeda. Aku ingin Cinta yang baru, bukan yang lalu yang terus
membayangiku. Aku mulai teringat Gadis di bangku paling belakang itu. “menarik
juga, cocok lah sama aku” aku menghayal. Aku mulai gencar mencari informasi tentangnya. Kini ku tahu
namanya Arara, dan sekarang dia adalah pacarku sejak 4bulan lalu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
